Bagaimana caranya meng-”harga”-i sebuah Project WebDesign ?

Seringkali aku dihadapkan kepada persoalan seperti ini, tiba-tiba ada teman atau mitra bisnis yang meminta harga dari sebuah project sebelum meminta proposal.

Teman: “Man, harganya berapa jika perusahaan gue (pribadi nih) pengen bikin website ?”
Aku: “Nah lho, gimana tahu harganya kalo aku nggak tahu apa yang mesti dikerjakan.”

Kira-kira situasi seperti itulah yang kerap kali aku hadapi. Yang paling sering sih aku jawab dengan sebuah jawaban yang tidak pasti juga “Tergantung kompleksitasnya”. Secara nggak sengaja aku browsing ke sebuah website dan menemukan sebuah artikel dengan judul “Pricing a Project” yang meskipun bukan standar tetapi bisa dijadikan acuan.

Ternyata perhitungan berapa harganya memang selalu relative hasilnya, dan metode inilah yang secara nggak sadar seringkali aku pake. Rumus yang dikemukakan di situ menurutku paling valid.

jumlah kerjaan x waktu( kompleksitas x effort ) x rate = harga

Sebagai contohnya untuk membuat sebuah corporate situs, dibutuhkan 2 mockup situs alternatif. Hanya berisikan company profile saja, kira-kira membutuhkan 5 halaman. Jika kita bikin skor untuk nilai kompleksitas (antara 1-10), misalnya nilainya 1 poin. dan untuk mengerjakannya dibutuhkan waktu 2 jam saja, yang mengerjakan cukup junior webdesigner yang rate per jamnya kira-kira Rp. 100.000. Kalau kita masukkan ke dalam rumus di atas akan jadi seperti ini :

2 x waktu(1 x 10jam) x Rp. 100.000 = Rp. 2.000.000

Nah, ketemu nilai proyek tersebut adalah Rp. 2.000.000. nilai proyek ini biasanya akan dinegosiasikan oleh klien, maka kita perlu cadangkan margin 10-30% untuk negotiable value. Untuk pekerjaan yang lebih kompleks tinggal diatur di nilai kompleksitas dan waktu pengerjaan.

Kalau sudah bisa menilai sebuah proyek, pertanyaan selanjutnya adalah,
“Apakah Anda siap untuk mendapatkan sebuah proyek webdesign dari teman kamu tadi?”.

Mau baca artikel selengkapnya ? silakan baca Blue Flavor : Pricing a Project. Semoga coretan ini berguna.